Rindu ini bukan kebetulan. Tetapi
bertemu denganmu adalah kebetulan yang aku syukuri sore ini. Perpisahan
memisahkan kita menjadi ‘aku’ dan ‘kau’. Enam bulan rasanya tak pernah cukup
untuk melenyapkanmu dari hati dan pikiranku. Tidak... aku berbohong. Beberapa
waktu yang lalu, sempat terlintas di benakku bahwa aku sudah bisa melupakanmu.
Dan hari ini, kebetulan yang
Tuhan berikan menjawab semuanya. Selama ini, aku hanya terbiasa tanpamu. Bukan berhenti
mencintaimu lagi.
Siapapun yang tinggal di ‘Planet’
Bekasi Utara pasti sudah khatam, entah itu pagi, siang, sore, malam, Prima –
Duta pasti selalu dipenuhi kendaraan, padat merayap. Seolah kemacetan adalah
hidangan yang harus kami santap setiap harinya. Dan sore ini di bawah muramnya
langit, ditengah kemacetan Kota Bekasi, aku melihatmu. Tepat di depanku. Dengan
tas selempang Bloopendorse, motor yamaha vino warna cappucino, helm kamu, jaket
kamu, celana jeans kamu.. terlebih postur tubuh yang tidak mungkin ku lupa.
Aku ragu untuk menyapamu. Tapi rasa
rindu mengalahkan keraguanku.
“Bani!”, teriakku.
Aku tersenyum saat aku tahu kamu
mendengarku dan melalui kaca spion motormu, kamu mencoba mencari tahu siapa
yang memanggilmu. Kamu mengenaliku. Dan lagi – lagi kemacetan membuat motor
kita beriringan. Kamu menatapku. Aku tahu. Tapi aku berpura – pura fokus pada
jalan di depan kita. Kamu tahu? Rasanya seperti dunia menghirup semua oksigen
disekitarku. Aku kesulitan bernafas. Tubuhku gemetar. Hatiku berdebar tak karuan.
Aku ingin menangis bahagia. Ingin tersenyum padamu. Ini seperti hadiah dari
Tuhan atas kerinduan selama 6 bulan tidak bertemu denganmu dan tanpa sedikitpun
tahu akan kabarmu. Dan rasa malu membuatku mendahului motormu. Aku mencoba
mengontrol diriku untuk tidak terus gemetar. Tetapi tiba – tiba kamu ada di
sampingku lagi. Menegurku!
“Baru pulang?”
“Iya..”
Ah rasa canggung membuatku hanya
bisa mengucapkan satu patah kata itu. Aku bahagia. Tapi rasa canggung juga yang
membuatku memacu motorku lebih cepat di depanmu. Dan saat aku melihat kaca
spion. Kamu berada tepat di belakangku. Aku ingin menangis. Kenapa? Miris rasanya..
dulu kita selalu bersama. Diboncengin kamu. Dijemput kamu. Ah ... rindu. Dan sekarang,
kita beriringan di dua motor yang berbeda.
Setelah itu aku tidak melihatmu
lagi di belakangku. Dan kemudian aku menyesali, karena aku tidak mencoba untuk
menanyakan kabarmu.
Kamu tahu? Sebelum kita bertemu
tadi, aku mengucapkan namamu berulang kali di jalan. Dan bertemu kamu tadi
seperti jawaban atas doa – doa ku selama ini. Setiap hari, setiap aku berangkat
– pulang dari manapun, aku selalu berharap bisa bertemu kamu di jalan. Dan hari
ini Tuhan mengabulkannya. Aku bersyukur akan itu.
Jadi Ibrahim Rabbani, sepertinya
rasaku masih sama.
Bagaimana denganmu, Schatje?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar