Kamis, 03 Desember 2015

Hello, Schatje.

Rindu ini bukan kebetulan. Tetapi bertemu denganmu adalah kebetulan yang aku syukuri sore ini. Perpisahan memisahkan kita menjadi ‘aku’ dan ‘kau’. Enam bulan rasanya tak pernah cukup untuk melenyapkanmu dari hati dan pikiranku. Tidak... aku berbohong. Beberapa waktu yang lalu, sempat terlintas di benakku bahwa aku sudah bisa melupakanmu.

Dan hari ini, kebetulan yang Tuhan berikan menjawab semuanya. Selama ini, aku hanya terbiasa tanpamu. Bukan berhenti mencintaimu lagi.

Siapapun yang tinggal di ‘Planet’ Bekasi Utara pasti sudah khatam, entah itu pagi, siang, sore, malam, Prima – Duta pasti selalu dipenuhi kendaraan, padat merayap. Seolah kemacetan adalah hidangan yang harus kami santap setiap harinya. Dan sore ini di bawah muramnya langit, ditengah kemacetan Kota Bekasi, aku melihatmu. Tepat di depanku. Dengan tas selempang Bloopendorse, motor yamaha vino warna cappucino, helm kamu, jaket kamu, celana jeans kamu.. terlebih postur tubuh yang tidak mungkin ku lupa.

Aku ragu untuk menyapamu. Tapi rasa rindu mengalahkan keraguanku.

“Bani!”, teriakku.

Aku tersenyum saat aku tahu kamu mendengarku dan melalui kaca spion motormu, kamu mencoba mencari tahu siapa yang memanggilmu. Kamu mengenaliku. Dan lagi – lagi kemacetan membuat motor kita beriringan. Kamu menatapku. Aku tahu. Tapi aku berpura – pura fokus pada jalan di depan kita. Kamu tahu? Rasanya seperti dunia menghirup semua oksigen disekitarku. Aku kesulitan bernafas. Tubuhku gemetar. Hatiku berdebar tak karuan. Aku ingin menangis bahagia. Ingin tersenyum padamu. Ini seperti hadiah dari Tuhan atas kerinduan selama 6 bulan tidak bertemu denganmu dan tanpa sedikitpun tahu akan kabarmu. Dan rasa malu membuatku mendahului motormu. Aku mencoba mengontrol diriku untuk tidak terus gemetar. Tetapi tiba – tiba kamu ada di sampingku lagi. Menegurku!

“Baru pulang?”

“Iya..”

Ah rasa canggung membuatku hanya bisa mengucapkan satu patah kata itu. Aku bahagia. Tapi rasa canggung juga yang membuatku memacu motorku lebih cepat di depanmu. Dan saat aku melihat kaca spion. Kamu berada tepat di belakangku. Aku ingin menangis. Kenapa? Miris rasanya.. dulu kita selalu bersama. Diboncengin kamu. Dijemput kamu. Ah ... rindu. Dan sekarang, kita beriringan di dua motor yang berbeda.

Setelah itu aku tidak melihatmu lagi di belakangku. Dan kemudian aku menyesali, karena aku tidak mencoba untuk menanyakan kabarmu.

Kamu tahu? Sebelum kita bertemu tadi, aku mengucapkan namamu berulang kali di jalan. Dan bertemu kamu tadi seperti jawaban atas doa – doa ku selama ini. Setiap hari, setiap aku berangkat – pulang dari manapun, aku selalu berharap bisa bertemu kamu di jalan. Dan hari ini Tuhan mengabulkannya. Aku bersyukur akan itu.

Jadi Ibrahim Rabbani, sepertinya rasaku masih sama.

Bagaimana denganmu, Schatje?



Lots of Love,
Your Stormy.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar