IMAN KEPADA MALAIKAT
AL – ISLAM

Dosen:
Drs. H. Misran Nuryanto
Oleh:
Andini Nur
Hidayah
43A87006130141
-
-
-
-
Kelas:
S1/TI/2.C/PAGI
TEKNIK INFORMATIKA
STMIK BANI SALEH BEKASI
2013/2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah IMAN KEPADA MALAIKAT ini dengan pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki. Terimakasih kepada Bapak Drs. H. Misran Nuryanto selaku Dosen mata
kuliah Agama Islam yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai eksistensi Malaikat, tugas dan peranannya, bahwa manusia lebih mulia daripada Malaikat dan hikmah beriman kepada Malaikat.
Tiada gading yang tak retak. Kami menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan jauh dari apa yang kami
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan yang
membangun demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Bekasi, September 2013
Penyusun
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
....................................................................................................................2
Daftar Isi
.............................................................................................................................3
Bab I Pendahuluan
..............................................................................................................4
1.1 Latar Belakang
..............................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah
.........................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan ..........................................................................................................
4
Bab II Pembahasan
.............................................................................................................6
2.1 Eksistensi Malaikat
......................................................................................................
6
2.1.1 Pengertian Malaikat
...................................................................................................6
2.1.2. Dari Apakah Malaikat Itu Diciptakan? ....................................................................
7
2.2 Iman Kepada Malaikat
.................................................................................................8
2.2.1
DALIL NAQLI IMAN KEPADA MALAIKAT
................................................... 9
2.2.2
Perilaku Beriman Kepada Malaikat
..................................................................... 10
2.3. Tugas dan Peran Malaikat
..........................................................................................11
2.4. Manusia Lebih Mulia Daripada Malaikat
..................................................................14
Bab III Penutup
.................................................................................................................16
3.1 Kesimpulan
.................................................................................................................16
3.2 Saran
...........................................................................................................................16
Daftar Pustaka
..................................................................................................................17
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Allah SWT tidak
hanya menciptakan makhluk yang tampak saja, tetapi Allah Swt juga menciptakan
makhluk yang tidak nyata atau makhluk ghaib, sebagai contoh adalah Malaikat.
Malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh, tunduk dan taat pada perintah
serta ketentuan Allah SWT. Malaikat berasal dari kata malak bahasa arab yang
artinya kekuatan. Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat,
didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak
dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam
rupa tertentu, seperti rupa manusia.
Beriman kepada
malaikat adalah satu dari rukun iman. Dengan kata lain, iman seorang hamba
kepada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan menegakkan rukun iman, yang
diantaranya adalah beriman kepada malaikat Allah. Beriman akan adanya malaikat
adalah wajib. Iman kepada malaikat ini, masuk kedalam iman kepada sesuatu yang
ghaib. Orang yang mengingkari akan adanya hal ini berarti mengingkari
keterangan Al-qur’an dan Rasul.
Banyak dari kita umat muslim yang masih tidak
mempercayai adanya Malaikat, menganggap bahwa keberadaan Malaikat adalah
takhayul. Dengan izin Allah, dalam makalah ini kami akan menjelaskan dan membahas
tentang Malaikat-Malaikat Allah serta peranan dan hikmah dengan mempercayai
adanya malaikat.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah dari penulisan makalah ini adalah:
1. Bagaimana
eksistensi Malaikat di dalam kehidupan Manusia?
2. Apa saja tugas dan peranan Malaikat?
3. Apakah Manusia lebih mulia daripada
Malaikat?
4. Apa saja hikmah dari beriman kepada
Malaikat?
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini adalah:
1.
Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui tentang
eksistensi Malaikat, tugas serta peranannya.
2.
Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui bahwa
Manusia lebih mulia daripada Malaikat.
3.
Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui dan
mengaplikasikan hikmah dari beriman kepada Malaikat.
BAB II
Pembahasan
2.1. Eksistensi Malaikat
2.1.1. Pengertian Malaikat
Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada
dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as
syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala
sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia
digolongkan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu
pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.
Untuk
mengetahui dan mengimani wujud makhluk ghaib tersebut, seseorang dapat menempuh
dua cara. Pertama, melalui berita atau informasi yang diberikan oleh sumber
tertentu (bil-Akhbar). Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan
makhluk ghaib itu ada (bil atsar).
Allâh
menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara
makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat
dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan
ghaib. Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku
untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang
keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya. Salah
satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat.
Almala-ul a’ala (kelompok
tertinggi) yakni Malaikat, adalah suatu alam yang halus, termasuk hal-hal yang
ghaib, tidak dapat dicapai oleh pancaindera. Secara etimologis kata Malaikat (dalam bahasa Indonesia Malaikat)
adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari masdhar al-khuluh yang
artinya ar-rissalah (misi atau pesan). Yang membawa misi atau pesan
tersebut disebut dengan ar-rasul (utusan).
Dalam
beberapa ayat Al-Quran Malaikat juga disebut dengan rusul (utusan-utusan),
misalnya pada surat Hud ayat 69.
Hud : 69
وَلَقَدْ
جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرٰهِيمَ بِالْبُشْرٰى قَالُوا سَلٰمًا ۖ قَالَ سَلٰمٌ ۖ
فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
Artinya
:
Dan
Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim
dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab:
“Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi
yang dipanggang.
Secara
terminologis Malaikat adalah mahkluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari
cahaya dengan wujud dan sifat yang berbeda-beda. Sebagai salah satu mahkluk
ghaib wujud malaikat tidak dapat dilihat, diraba, dicium, dirasakan oleh
manusia.
Malaikat
itu disucikan dari kesyahwatan-kesyahwatan hayawaniah, terhindar sama sekalai
dari keinginan-keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan
salah. Jadi mereka itu memang mempunyai suatu alam yang tersendiri, berdiri
dalam bidangnya sendiri, bebas menurut hal-ihwalnya sendiri, tidak dihinggapi
oleh sifat yang biasa diterapkan terhadap manusia, misalnya hubungannya dengan
kebendaan (materi keduniaan), juga mreka itu mempunyai kekuasaan dapat menjelma
dalam rupa manusia atau lain-lain bentuk yang dapat dicapai oleh rasa dan
penglihatan. Tetapi, walaupun malaikat mempunyai keluarbiasaan yang sangat
hebat, malaikat tidak berhak untuk diibadahi oleh umat manusia. Namun umat
manusia wajib untuk mempercayai dan mengimani malaikat.
2.1.2. Dari Apakah Malaikat Itu Diciptakan?
Allah
Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Malaikat itu dari pada nur (cahaya),
sebagaimana dia menciptakan nabi Adam a.s. dari pada tanah liat, juga
sebagaimana menciptakan jin dari pada api.
Tempat
kediaman Malaikat itu ada di langit, tetapi mereka itu dapat pula turun dari
langit itu dengan perintah Allah Ta’ala.
Allah
telah menciptakan Malaikat itu lebih dulu dari pada menciptakan Manusia.
Sebelum itu Allah ta’ala memang telah memberitahukan kepada seluruh Malaikat
bahwa manuasia itu hendak diciptakan untuk dijadikan sebagai khalifah (pengganti)
di atas permukaan bumi ini.
2.2 Iman Kepada Malaikat
Oleh sebab keadaan
Malaikat itu sebagaimana yang sudah diuraikan di muka yakni bah-wa mereka itu
berada di dalam alam ruh dan demikian hal pula hal karya-karya mereka yang
dikerjakan secara otomatis sekali dalam alam semesta atau alam dunia ini, juga
oleh sebab begitu itulah hubungan antara mereka dengan manusia di alam ini
serta di alam yang akan datang nanti, maka sudah sewajibnyalah kita beriman
bahwa mereka itu benar-benar ada.
Maksud iman kepada malaikat adalah mengimani
bahwa mereka adalah perantara antara Allah dan rosulnya, dalam menurunkan
kitab- kitab-Nya dan menyampaikan perintah dan larangannya. Mereka adalah
utusan Allah kepada para Rosul-Nya. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak
mengimani mereka maka ia kafir terhadap kitab-kitab dan para rosul-Nya .
seperti dijelaskan ayat di bawah ini bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap
umat Islam yang mengaku beriman, untuk meyakini keberadaan malaikat.
آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ
رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ
Terjemahan:
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah Malaikat-malaikat-Nya…”[1]
Terjemahan:
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah Malaikat-malaikat-Nya…”[1]
Sebab itu pula, iman kepada malaikat didahulukan
daripada iman kepada kitab dan rosul-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam
Al-qur'an dan hadist.
Imam Al-jalil alhadhrowi berkata dalam kitab syu'ab al-iman, "ketahuilah semoga Allah memberikan rahmat padamu bahwa iman kepada malaikat itu wajib seperti iman kepada para rosul. Orang yang menentang iman kepada malaikat adalah kafir dan Allah tidak menerima keimanannya. Karena ia telah mendustai kitab-kitab dan para rosul-Nya".
Antara malaikat satu dengan yang lainnya memeliki beberapa perbedaan,seperti kedudukan dan bahwa Allah SWT menciptakan malaikat bersayap. Jumlah sayap merekapun berbeda-beda tergantung dengan kehendak Allah SWT. Kedudukan dan status malaikat serta kemampuan cepat atau lambat serta perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain.
Imam Al-jalil alhadhrowi berkata dalam kitab syu'ab al-iman, "ketahuilah semoga Allah memberikan rahmat padamu bahwa iman kepada malaikat itu wajib seperti iman kepada para rosul. Orang yang menentang iman kepada malaikat adalah kafir dan Allah tidak menerima keimanannya. Karena ia telah mendustai kitab-kitab dan para rosul-Nya".
Antara malaikat satu dengan yang lainnya memeliki beberapa perbedaan,seperti kedudukan dan bahwa Allah SWT menciptakan malaikat bersayap. Jumlah sayap merekapun berbeda-beda tergantung dengan kehendak Allah SWT. Kedudukan dan status malaikat serta kemampuan cepat atau lambat serta perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain.
Jumlah mereka banyak sekali dan tidak diketahui
seara pasti, hal ini terjadi pada perang badar ketika Allah menurunkan beribu-
ribu malaikt yang membantu kaum muslimin untuk melawan musuh islam yaitu bangsa
Quraisy.
2.2.1 DALIL NAQLI IMAN KEPADA MALAIKAT
Sebagai rukun iman yang kedua, iman kepada Malaikat ini memiliki landasan (dalil)
dalam pengambilan hukumnya. Di antara dalil yang menunjukkan adanya
kewajiban iman kepada Malaikat antara lain :
a. Q.S Al-Baqarah 285:
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن
رَّبِّهِۦ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلٰٓئِكَتِهِۦ
وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا
سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Artinya: “Rasul telah beriman kepada
Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang
yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari
rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami
taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada
Engkaulah tempat kembali".”
b. QS AT Tahrim 6
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ
غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا
يُؤْمَرُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
c.
Q.S An-Nisa’ ayat 136:
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا ءَامِنُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِۦ وَالْكِتٰبِ الَّذِى نَزَّلَ عَلٰى رَسُولِهِۦ وَالْكِتٰبِ الَّذِىٓ
أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ
وَرُسُلِهِۦ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang
beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang
Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa
yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat
sejauh-jauhnya.
d. Hadits
خلقت الملآئكت من نور وخلق الجان من مارج من نار
وخلق ادم مما وصف لكم ( رواه البخاري )
Artinya: “Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api
dan adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua”. (dari
tanah). (H.R. Bukhori).
2.2.2
Perilaku
Beriman Kepada Malaikat
Sesungguhnya malaikat memenuhialam semesta ini,
sampai tak ada satu jengkalpun didunia ini kecuali mereka ada disana. Sebab
itulah, Rasulallah melarang kita untuk menghadap kiblat atau membelakanginya
ketika buang air kecil dan buang air besar. Untuk menghormati para malaikat yang
sedang melakukan sholat dan menghadap qiblat. Oleh karena itu, iman kepada
mereka hukumnya wajib.
Contoh- contoh perilaku beriman kepada malaikat:
v Berkata
jujur, menepati janji, dan menjaga amanah.
v Sabar,
syukur, ikhlas, tawakal.
v Selalu
mengerjakan perintahnya dan menjahui larangannya.
Dan diantara sifat- sifat yang harus dijahui
yaitu:
1. Sifat marah dan kesenangan
Kemarahan adalah bencana yang merusak akal.
Apabila akal sedang lemah, menyeranglah bala tentara syaitan itu, lagi pula
setiap manusia yang marah, syaitan selalu mempermainkannya sebagaimana seorang
anak kecil mempermainkan bola. Dan benar- benar telah disebutkan bahwa
sementara wali- wali Allah berkata pada iblis: "perhatikanlah padaku
bagaimana cara engkau menguasai anak cucu Adam". Dia berkata:" aku
menangkapnya ketika marah dan senang.
2. Sifat
Tama' (mengharap) Manusia
Benar- benar telah diriwayatkan dari sofwan bin
salim, sesungguhnya iblis menjelma keada Abdullah bin Hadlola dan berkata
padanya". hi ibnu hadhola, hafalkanlah sesuatu dariku, aku akan
mengajarkannya padamu". Berkatalah Abdullah bin Hadholah padanya: aku
tidak butuh itu". Iblis berkata: perhatikanlah. Kalau dia baik bisa kau
ambil dan kalau buruk kau bisa menolaknya. Hai ibnu hadhola, janganlah engkau
meminta pada manusia dengan permintaan mengharap dan perhatikan bagaiman engkau
waktu marah, karena aku menguasaimu ketika engkau marah".
2.3. Tugas dan Peran Malaikat
Jumlah Malaikat
sesungguhnya sangatlah banyak, tidak bisa diperkirakan. Setiap malaikat juga
mempunyai perbedaan-perbedaan dan tingkatan-tingkatan tertentu. Namun Malaikat
yang dapat diketahui oleh manusia hanya ada 10 Malaikat berserta
tugas-tugasnya. Nama dan tugas Malaikat, ialah sebagai berikut :
|
No
|
Nama Malaikat
|
Tugas
|
|
1
|
Jibril
|
Menyampaikan wahyu
|
|
2
|
Mikail
|
Menyampaikan rezeki
|
|
3
|
Izrail
|
Pencabut nyawa
|
|
4
|
Israfil
|
Peniup sangkakala
|
|
5
|
Raqib
|
Pencatat amal baik
|
|
6
|
Atid
|
Pencatat amal buruk
|
|
7
|
Munkar
|
Pemeriksa amal Manusia di alam Kubur
|
|
8
|
Nakir
|
Pemeriksa amal Manusia di alam Kubur
|
|
9
|
Malik
|
Penjaga pintu neraka
|
|
10
|
Ridwan
|
Penjaga pintu surga
|
2.4. Manusia Lebih Mulia Daripada Malaikat
Yang terang dan jelas
ialah bahwa manusia itu lebih utama dan lebih mulia daripada Malaikat itu untuk
menjawab berbagai pertanyaan yang dikemukakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada
mereka itu mengenai nama-nama benda yang tertentu, sedangkan Adam a.s. dapat
memberikan jawabannya dengan tepat dan benar. Jadi Allah Ta’ala telah
memuliakan manusia itu dengan mengaruniakan ilmu pengetahuan yang tidak
diberikan kepada malaikat itu, juga manusia itu diberi keistimewaan untuk
mengenal, mengetahui dan mema’rifati bermacam-macm benda dan barang. Selain itu
Allah Ta’ala pernah memerintahkan kepada Malaikat itu untuk memberi
penghormatan kepada Adam a.s. hal ini rasanya cukup sebagai bukti bahwa Allah
Ta’ala sengaja menunjukan bahwa memang manusialah yang dianggap lebih utama dan
lebih mulia dari pada malaikatr itu sendiri.
Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
Surah Al - Baqarah 31-34
Al-Baqarah : 31
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ
صٰدِقِينَ
Artinya: “Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!"
Al-Baqarah : 32
قَالُوا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ
أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Mereka
menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
Al-Baqarah : 33
قَالَ يٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم
بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ
وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
Artinya: “Allah
berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda
ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu,
Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan?"
Al-Baqarah : 34
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوا لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا إِلَّآ
إِبْلِيسَ أَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِينَ
Artinya : “Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Dari sudut lain,
kitapun dapat mengetahui bahwa ketaatan yang diberikan oleh Malaikat itu adalah
suatu hal yang terjadi secara otomatis (dengan sendirinya), juga mereka
meninggalkan kemaksiatan itupun tidak perlu dengan menekan jiwa atau diusahakan
dengan sesungguh-sungguhnya. Sedangkan ketika manusia menjadi mulia, maka kemuliaannya
merupakan hasil dari pilihannya sendiri, jelas ini berbeda dengan kemuliaan
malaikat yang telah ditetapkan untuk dimuliakan Allah. Kita menjadi mulia
diatas banyaknya alternatif untuk tidak menjadi mulia, hal ini tentu saja
berbeda ‘bobotnya’ kalau kemuliaan tersebut kita dapatkan karena tidak ada
alternatif lain dan memang menjadi satu-satunya pilihan.
Manusia yang mampu memuliakan diri
mereka dikatakan Al-Qur’an dengan sebutan ‘khairul
bariyyah’ :
inna alladziina aamanuu
wa'amiluu alshshaalihaati ulaa-ika hum khayru albariyyati
Artinya: “Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah
sebaik-baik makhluk.” (Al-Bayyinah 7)
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut
manusia yang beriman dan mengerjakan amal saleh dengan kata ‘al-khalqa’ seperti
halnya ketika Dia menyebut manusia pada ayat lain, misalnya QS 10:4 , QS 10:34,
QS 27:74 yang diartikan sebagai : ciptaan. Pada Al-Bayyinah 7 manusia
diistilahkan dengan ‘al-bariyyah’ yang
berasal dari akar kata ‘ba-ra-alif’ yang
menurunkan kata dalam bahasa Arab yang diartikan bebas, berlepas diri (QS
43:26) , dan (QS 54:43), maka istilah ‘sebaik-baiknya makhluk’ tersebut
mempunyai nuansa bahwa kebaikan tersebut berasal dari pilihan bebas yag sudah
ditanamkan Allah dalam diri manusia. Sebaliknya pada ayat sebelumnya Allah juga
menyebut istilah ‘syarrul bariyyah’ – seburuk-buruknya
makhluk untuk manusia yang ingkar, artinya keburukan tersebut muncul dari
pilihan manusia itu sendiri.
Pemahaman dari pemakaian kata ini
juga bisa diartikan bahwa kebaikan dan keburukan manusia tersebut merupakan
kondisi ‘yang paling’ diantara seluruh makhluk ciptaan, bahwa manusia yang
beriman dan beramal saleh merupakan makhluk yang terbaik diantara semua
makhluk, termasuk malaikat, sebaliknya bagi mereka yang ingkar akan menjelma
menjadi makhluk terburuk termasuk dibandingkan dengan binatang sekalipun (QS
7:179). Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan :”Abu Hurairah dan sejumlah
ulama telah menjadikan surat Al-bayyinah 7 ini sebagai dalil pengutamaan
orang-orang mukmin atas para malaikat”.(Tafsir Ibu Katsir jilid 8, hal 518)
Beberapa tahun lalu kita mendapatkan
berita dari media massa tentang penduduk suatu desa yang menemukan seorang bayi
yang baru lahir tergeletak menangis dikebun terpencil, sekujur tubuhnya
dikerubuti semut karena masih terbalur dengan air ketuban, bayi tersebut
ternyata dibuang ibunya yang malu karena melahirkan anak haram diluar nikah.
Bayangkan.., bahkan Iblis-pun tidak akan sanggup membuang anaknya dengan cara
demikian. Pada peristiwa lain seperti diceritakan oleh Ahmad Deedat dalam suatu
ceramahnya, beliau mengisahkan kejadian terjangan badai pada suatu kota
dipinggir laut di Afrika Selatan. Dalam kondisi darurat tersebut para penduduk
melihat seekor anjing sedang berjuang melawan maut karena terseret ombak besar.
Mereka lalu berusaha menolong anjing dengan berpegangan tangan, mempertaruhkan
nyawa mereka agar bisa menjangkau anjing yang terseret ketengah laut tersebut.
Bayangkan lagi,
bahkan malaikat-pun tidak akan mau melakukan hal seperti itu.
‘Kebanggaan’ Allah terhadap
kesempurnaan manusia tergambar dalam ayat Al-Qur'an ini:
At-Tin : 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tiin: 4)
Manusia bisa memuliakan diri mereka
melebihi malaikat, dan juga menghinakan diri lebih rendah dari binatang, sebab
manusia telah di desain Allah dengan tingkat kesempurnaan yang melebihi dari
makhluk manapun.
2.4. Hikmah Beriman Kepada Malaikat
Kewajiban beriman kepada Malaikat ini memiliki beberapa hikmah yang sangat
berguna bagi kehidupan manusia. Di antara hikmahi tersebut adalah :
v Membentuk jiwa seorang muslim yang
benar-benar bertakwa kepada Allah, karena iman kepada Allah dan iman kepada
Malaikat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan
v Mendorong manusia untuk
senantiasa bertindak hati-hati, karena dia menyadari bahwa setiap perbuatannya
selalu diawasi oleh para Malaikat
v Mendorong manusia untuk selalu
meningkatkan amal baik, karena manusia menyadari bahwa sekecil apapun tindakan
baiknya akan dicatat oleh Malaikat
v Menghindarkan diri manusia
dari perbuatan tercela yang akan menurunkan martabat dan derajat dari manusia
itu sendiri
v Semakin
meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.
v Bersyukur
kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan
kepentingan manusia dan jin.
v Menumbuhkan
cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat
v Cinta kepada
malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan karena mereka selalu
membantu dan mendoakan kita.
BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Secara etimologis kata
Malaikah (dalam bahasa Indonesia Malaikat) adalah bentuk jamak dari malak,
berasal dari masdhar al-khuluh yang artinya ar-rissalah (misi atau
pesan). Yang membawa misi atau pesan tersebut disebut dengan ar-rasul (utusan).
Secara terminologis Malaikat adalah mahkluk ghaib yang diciptakan oleh Allah
SWT dari cahaya dengan wujud dan sifat yang berbeda-beda. Sebagai salah satu
mahkluk ghaib wujud malaikat tidak dapat dilihat, diraba, dicium, dirasakan
oleh manusia.
Para Malaikat diciptakan
dari cahaya. Merupakan makhluk Allah yang selalu taat dan tidak pernah maksiat.
Malaikat adalah makhluk yang sangat besar, Malaikat juga memiliki paras yang
sangat indah.
Malaikat adalah salah satu
makhluk ciptaan Alloh Ta’ala. Keimanan kepada malaikat merupakan salah satu
rukun dari rukun iman, hal ini sebagaimana penjelasan Rosululloh shollallohu
‘alaihi wa sallam dalam hadits jibril, dimana malaikat jibril bertanya kepada
beliau tentang iman dan kemudian dijawab oleh Rosululloh “Engkau beriman kepada
Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan
kepada qadar yang baik dan buruk “. (HR.Muslim).
Hikmah beriman kepada Malaikat diantaranya, mengetahui
keagungan Allah, kekuatan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Kebesaran makhluk pada
hakikatnya adalah dari keagungan sang Pencipta. Menambah rasa syukur kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perhatian-Nya untuk umat manusia dengan mengutus
para Malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai
kemashlahatannya yang lain. Dan rasa cinta kepada para Malaikat karena ketaatan
mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3.2 Saran
Kita sebagai manusia juga
harus beriman kepada para Malaikat, kerena Malikat adalah salah satu mahluk
ciptaan Allah SWT, bahkan dalam rukun islam yang ke dua terdapat manusia harus
beriman kepada Maliakat. Dan, apabila manusia tidak mengakui adanya Malaikat
sama saja manusia tidak percaya dengan Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
Sayyid Sabiq, Bandung: Diponegoro, 2004
http://gilangseptiansyah.blogspot.com/2013/03/fungsi-atau-sifat-dan-hikmah-iman.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar