Senin, 07 Desember 2015

TUGAS AGAMA ISLAM - IMAN KEPADA MALAIKAT

IMAN KEPADA MALAIKAT
AL – ISLAM


Dosen:
Drs. H. Misran Nuryanto

Oleh:
Andini Nur Hidayah
43A87006130141

-

-

-

-

Kelas:
S1/TI/2.C/PAGI

TEKNIK INFORMATIKA
STMIK BANI SALEH BEKASI
2013/2014






KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah IMAN KEPADA MALAIKAT ini dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Terimakasih kepada Bapak Drs. H. Misran Nuryanto selaku Dosen mata kuliah Agama Islam yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

            Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai eksistensi Malaikat, tugas dan peranannya, bahwa manusia lebih mulia daripada Malaikat dan hikmah beriman kepada Malaikat.

Tiada gading yang tak retak. Kami menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat banyak kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

     
Bekasi, September 2013


Penyusun










DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................................2
Daftar Isi .............................................................................................................................3
Bab I Pendahuluan ..............................................................................................................4
1.1  Latar Belakang ..............................................................................................................4
1.2  Rumusan Masalah .........................................................................................................4
1.3  Tujuan Penulisan .......................................................................................................... 4
Bab II Pembahasan .............................................................................................................6
2.1 Eksistensi Malaikat ...................................................................................................... 6
2.1.1 Pengertian Malaikat ...................................................................................................6
2.1.2. Dari Apakah Malaikat Itu Diciptakan? .................................................................... 7
2.2  Iman Kepada Malaikat .................................................................................................8
2.2.1        DALIL NAQLI IMAN KEPADA MALAIKAT ................................................... 9
2.2.2        Perilaku Beriman Kepada Malaikat ..................................................................... 10
2.3. Tugas dan Peran Malaikat ..........................................................................................11
2.4. Manusia Lebih Mulia Daripada Malaikat ..................................................................14
Bab III Penutup .................................................................................................................16
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................16
3.2 Saran ...........................................................................................................................16
Daftar  Pustaka ..................................................................................................................17











BAB I
Pendahuluan

1.1. Latar Belakang
 Allah SWT tidak hanya menciptakan makhluk yang tampak saja, tetapi Allah Swt juga menciptakan makhluk yang tidak nyata atau makhluk ghaib, sebagai contoh adalah Malaikat. Malaikat adalah kekuatan-kekuatan yang patuh, tunduk dan taat pada perintah serta ketentuan Allah SWT. Malaikat berasal dari kata malak bahasa arab yang artinya kekuatan. Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dirasakan oleh manusia, dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca indera, kecuali jika malaikat menampakkan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia.
 Beriman kepada malaikat adalah satu dari rukun iman. Dengan kata lain, iman seorang hamba kepada Allah tidak akan sempurna kecuali dengan menegakkan rukun iman, yang diantaranya adalah beriman kepada malaikat Allah. Beriman akan adanya malaikat adalah wajib. Iman kepada malaikat ini, masuk kedalam iman kepada sesuatu yang ghaib. Orang yang mengingkari akan adanya hal ini berarti mengingkari keterangan Al-qur’an dan Rasul.
 Banyak dari kita umat muslim yang masih tidak mempercayai adanya Malaikat, menganggap bahwa keberadaan Malaikat adalah takhayul. Dengan izin Allah, dalam makalah ini kami akan menjelaskan dan membahas tentang Malaikat-Malaikat Allah serta peranan dan hikmah dengan mempercayai adanya malaikat.

1.2. Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Bagaimana eksistensi Malaikat di dalam kehidupan Manusia?
2.      Apa saja tugas dan peranan Malaikat?
3.      Apakah Manusia lebih mulia daripada Malaikat?
4.      Apa saja hikmah dari beriman kepada Malaikat?

1.3. Tujuan Penulisan
 Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1.      Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui tentang eksistensi Malaikat, tugas serta peranannya.
2.      Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui bahwa Manusia lebih mulia daripada Malaikat.
3.      Agar Penulis dan Pembaca dapat mengetahui dan mengaplikasikan hikmah dari beriman kepada Malaikat.




























BAB II
Pembahasan

2.1. Eksistensi Malaikat
2.1.1. Pengertian Malaikat
Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.
Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk ghaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau informasi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar). Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk ghaib itu ada (bil atsar).
Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib. Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya. Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat.
Almala-ul a’ala (kelompok tertinggi) yakni Malaikat, adalah suatu alam yang halus, termasuk hal-hal yang ghaib, tidak dapat dicapai oleh pancaindera. Secara etimologis kata Malaikat (dalam bahasa Indonesia Malaikat) adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari masdhar al-khuluh yang artinya  ar-rissalah (misi atau pesan). Yang membawa misi atau pesan tersebut disebut dengan ar-rasul (utusan).
Dalam beberapa ayat Al-Quran Malaikat juga disebut dengan rusul (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud ayat 69.
Hud : 69
وَلَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرٰهِيمَ بِالْبُشْرٰى قَالُوا سَلٰمًا ۖ قَالَ سَلٰمٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ
Artinya :
Dan Sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.
Secara terminologis Malaikat adalah mahkluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dengan wujud dan sifat yang berbeda-beda. Sebagai salah satu mahkluk ghaib wujud malaikat tidak dapat dilihat, diraba, dicium, dirasakan oleh manusia.
Malaikat itu disucikan dari kesyahwatan-kesyahwatan hayawaniah, terhindar sama sekalai dari keinginan-keinginan hawa nafsu, terjauh dari perbuatan-perbuatan dosa dan salah. Jadi mereka itu memang mempunyai suatu alam yang tersendiri, berdiri dalam bidangnya sendiri, bebas menurut hal-ihwalnya sendiri, tidak dihinggapi oleh sifat yang biasa diterapkan terhadap manusia, misalnya hubungannya dengan kebendaan (materi keduniaan), juga mreka itu mempunyai kekuasaan dapat menjelma dalam rupa manusia atau lain-lain bentuk yang dapat dicapai oleh rasa dan penglihatan. Tetapi, walaupun malaikat mempunyai keluarbiasaan yang sangat hebat, malaikat tidak berhak untuk diibadahi oleh umat manusia. Namun umat manusia wajib untuk mempercayai dan mengimani malaikat.
2.1.2. Dari Apakah Malaikat Itu Diciptakan?
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Malaikat itu dari pada nur (cahaya), sebagaimana dia menciptakan nabi Adam a.s. dari pada tanah liat, juga sebagaimana menciptakan jin dari pada api.
Tempat kediaman Malaikat itu ada di langit, tetapi mereka itu dapat pula turun dari langit itu dengan perintah Allah Ta’ala.
Allah telah menciptakan Malaikat itu lebih dulu dari pada menciptakan Manusia. Sebelum itu Allah ta’ala memang telah memberitahukan kepada seluruh Malaikat bahwa manuasia itu hendak diciptakan untuk dijadikan sebagai khalifah (pengganti) di atas permukaan bumi ini.
2.2 Iman Kepada Malaikat
Oleh sebab keadaan Malaikat itu sebagaimana yang sudah diuraikan di muka yakni bah-wa mereka itu berada di dalam alam ruh dan demikian hal pula hal karya-karya mereka yang dikerjakan secara otomatis sekali dalam alam semesta atau alam dunia ini, juga oleh sebab begitu itulah hubungan antara mereka dengan manusia di alam ini serta di alam yang akan datang nanti, maka sudah sewajibnyalah kita beriman bahwa mereka itu benar-benar ada.
Maksud iman kepada malaikat adalah mengimani bahwa mereka adalah perantara antara Allah dan rosulnya, dalam menurunkan kitab- kitab-Nya dan menyampaikan perintah dan larangannya. Mereka adalah utusan Allah kepada para Rosul-Nya. Oleh karena itu, barang siapa yang tidak mengimani mereka maka ia kafir terhadap kitab-kitab dan para rosul-Nya . seperti dijelaskan ayat di bawah ini bahwa sudah menjadi keharusan bagi setiap umat Islam yang mengaku beriman, untuk meyakini keberadaan malaikat.
آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ
Terjemahan:
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah Malaikat-malaikat-Nya…”[1]
Sebab itu pula, iman kepada malaikat didahulukan daripada iman kepada kitab dan rosul-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-qur'an dan hadist.
Imam Al-jalil alhadhrowi berkata dalam kitab syu'ab al-iman, "ketahuilah semoga Allah memberikan rahmat padamu bahwa iman kepada malaikat itu wajib seperti iman kepada para rosul. Orang yang menentang iman kepada malaikat adalah kafir dan Allah tidak menerima keimanannya. Karena ia telah mendustai kitab-kitab dan para rosul-Nya".
Antara malaikat satu dengan yang lainnya memeliki beberapa perbedaan,seperti kedudukan dan bahwa Allah SWT menciptakan malaikat bersayap. Jumlah sayap merekapun berbeda-beda tergantung dengan kehendak Allah SWT. Kedudukan dan status malaikat serta kemampuan cepat atau lambat serta perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain.
Jumlah mereka banyak sekali dan tidak diketahui seara pasti, hal ini terjadi pada perang badar ketika Allah menurunkan beribu- ribu malaikt yang membantu kaum muslimin untuk melawan musuh islam yaitu bangsa Quraisy.
2.2.1 DALIL NAQLI IMAN KEPADA MALAIKAT
Sebagai rukun iman yang kedua, iman kepada Malaikat ini memiliki landasan (dalil) dalam pengambilan hukumnya. Di antara dalil yang menunjukkan adanya kewajiban iman kepada Malaikat antara lain :

a. Q.S Al-Baqarah 285:

ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِۦ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَمَلٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِۦ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Artinya: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".”


b. QS AT Tahrim 6

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

c. Q.S An-Nisa’ ayat 136:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا ءَامِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَالْكِتٰبِ الَّذِى نَزَّلَ عَلٰى رَسُولِهِۦ وَالْكِتٰبِ الَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًۢا بَعِيدًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.
d. Hadits
خلقت الملآئكت من نور وخلق الجان من مارج من نار وخلق       ادم  مما وصف لكم ( رواه البخاري )
Artinya: “Malaikat itu diciptakan dari cahaya sedangkan jin dari nyala api dan adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kamu semua”. (dari tanah). (H.R. Bukhori).
2.2.2        Perilaku Beriman Kepada Malaikat
Sesungguhnya malaikat memenuhialam semesta ini, sampai tak ada satu jengkalpun didunia ini kecuali mereka ada disana. Sebab itulah, Rasulallah melarang kita untuk menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang air kecil dan buang air besar. Untuk menghormati para malaikat yang sedang melakukan sholat dan menghadap qiblat. Oleh karena itu, iman kepada mereka hukumnya wajib.
Contoh- contoh perilaku beriman kepada malaikat:
v  Berkata jujur, menepati janji, dan menjaga amanah.
v  Sabar, syukur, ikhlas, tawakal.
v  Selalu mengerjakan perintahnya dan menjahui larangannya.
Dan diantara sifat- sifat yang harus dijahui yaitu:
1. Sifat marah dan kesenangan
Kemarahan adalah bencana yang merusak akal. Apabila akal sedang lemah, menyeranglah bala tentara syaitan itu, lagi pula setiap manusia yang marah, syaitan selalu mempermainkannya sebagaimana seorang anak kecil mempermainkan bola. Dan benar- benar telah disebutkan bahwa sementara wali- wali Allah berkata pada iblis: "perhatikanlah padaku bagaimana cara engkau menguasai anak cucu Adam". Dia berkata:" aku menangkapnya ketika marah dan senang.
2. Sifat Tama' (mengharap) Manusia
Benar- benar telah diriwayatkan dari sofwan bin salim, sesungguhnya iblis menjelma keada Abdullah bin Hadlola dan berkata padanya". hi ibnu hadhola, hafalkanlah sesuatu dariku, aku akan mengajarkannya padamu". Berkatalah Abdullah bin Hadholah padanya: aku tidak butuh itu". Iblis berkata: perhatikanlah. Kalau dia baik bisa kau ambil dan kalau buruk kau bisa menolaknya. Hai ibnu hadhola, janganlah engkau meminta pada manusia dengan permintaan mengharap dan perhatikan bagaiman engkau waktu marah, karena aku menguasaimu ketika engkau marah".
2.3. Tugas dan Peran Malaikat
Jumlah Malaikat sesungguhnya sangatlah banyak, tidak bisa diperkirakan. Setiap malaikat juga mempunyai perbedaan-perbedaan dan tingkatan-tingkatan tertentu. Namun Malaikat yang dapat diketahui oleh manusia hanya ada 10 Malaikat berserta tugas-tugasnya. Nama dan tugas Malaikat, ialah sebagai berikut :
No
Nama Malaikat
Tugas
1
Jibril
Menyampaikan wahyu
2
Mikail
Menyampaikan rezeki
3
Izrail
Pencabut nyawa
4
Israfil
Peniup sangkakala
5
Raqib
Pencatat amal baik
6
Atid
Pencatat amal buruk
7
Munkar
Pemeriksa amal Manusia di alam Kubur
8
Nakir
Pemeriksa amal Manusia di alam Kubur
9
Malik
Penjaga pintu neraka
10
Ridwan
Penjaga pintu surga
2.4. Manusia Lebih Mulia Daripada Malaikat
Yang terang dan jelas ialah bahwa manusia itu lebih utama dan lebih mulia daripada Malaikat itu untuk menjawab berbagai pertanyaan yang dikemukakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka itu mengenai nama-nama benda yang tertentu, sedangkan Adam a.s. dapat memberikan jawabannya dengan tepat dan benar. Jadi Allah Ta’ala telah memuliakan manusia itu dengan mengaruniakan ilmu pengetahuan yang tidak diberikan kepada malaikat itu, juga manusia itu diberi keistimewaan untuk mengenal, mengetahui dan mema’rifati bermacam-macm benda dan barang. Selain itu Allah Ta’ala pernah memerintahkan kepada Malaikat itu untuk memberi penghormatan kepada Adam a.s. hal ini rasanya cukup sebagai bukti bahwa Allah Ta’ala sengaja menunjukan bahwa memang manusialah yang dianggap lebih utama dan lebih mulia dari pada malaikatr itu sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Surah Al - Baqarah 31-34
Al-Baqarah : 31
وَعَلَّمَ ءَادَمَ الْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صٰدِقِينَ
Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Al-Baqarah : 32
قَالُوا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
Al-Baqarah : 33
قَالَ يٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
Artinya: “Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Al-Baqarah : 34
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوا لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبٰى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكٰفِرِينَ
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”
Dari sudut lain, kitapun dapat mengetahui bahwa ketaatan yang diberikan oleh Malaikat itu adalah suatu hal yang terjadi secara otomatis (dengan sendirinya), juga mereka meninggalkan kemaksiatan itupun tidak perlu dengan menekan jiwa atau diusahakan dengan sesungguh-sungguhnya. Sedangkan ketika manusia menjadi mulia, maka kemuliaannya merupakan hasil dari pilihannya sendiri, jelas ini berbeda dengan kemuliaan malaikat yang telah ditetapkan untuk dimuliakan Allah. Kita menjadi mulia diatas banyaknya alternatif untuk tidak menjadi mulia, hal ini tentu saja berbeda ‘bobotnya’ kalau kemuliaan tersebut kita dapatkan karena tidak ada alternatif lain dan memang menjadi satu-satunya pilihan.
Manusia yang mampu memuliakan diri mereka dikatakan Al-Qur’an dengan sebutan khairul bariyyah’ :
inna alladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati ulaa-ika hum khayru albariyyati
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. (Al-Bayyinah 7)
Dalam ayat ini Allah tidak menyebut manusia yang beriman dan mengerjakan amal saleh dengan kata ‘al-khalqa’ seperti halnya ketika Dia menyebut manusia pada ayat lain, misalnya QS 10:4 , QS 10:34, QS 27:74 yang diartikan sebagai : ciptaan. Pada Al-Bayyinah 7 manusia diistilahkan dengan al-bariyyah’ yang berasal dari akar kata ‘ba-ra-alifyang menurunkan kata dalam bahasa Arab yang diartikan bebas, berlepas diri (QS 43:26) , dan (QS 54:43), maka istilah ‘sebaik-baiknya makhluk’ tersebut mempunyai nuansa bahwa kebaikan tersebut berasal dari pilihan bebas yag sudah ditanamkan Allah dalam diri manusia. Sebaliknya pada ayat sebelumnya Allah juga menyebut istilah ‘syarrul bariyyah’ seburuk-buruknya makhluk untuk manusia yang ingkar, artinya keburukan tersebut muncul dari pilihan manusia itu sendiri.
Pemahaman dari pemakaian kata ini juga bisa diartikan bahwa kebaikan dan keburukan manusia tersebut merupakan kondisi ‘yang paling’ diantara seluruh makhluk ciptaan, bahwa manusia yang beriman dan beramal saleh merupakan makhluk yang terbaik diantara semua makhluk, termasuk malaikat, sebaliknya bagi mereka yang ingkar akan menjelma menjadi makhluk terburuk termasuk dibandingkan dengan binatang sekalipun (QS 7:179). Ibnu katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan :”Abu Hurairah dan sejumlah ulama telah menjadikan surat Al-bayyinah 7 ini sebagai dalil pengutamaan orang-orang mukmin atas para malaikat”.(Tafsir Ibu Katsir jilid 8, hal 518)
Beberapa tahun lalu kita mendapatkan berita dari media massa tentang penduduk suatu desa yang menemukan seorang bayi yang baru lahir tergeletak menangis dikebun terpencil, sekujur tubuhnya dikerubuti semut karena masih terbalur dengan air ketuban, bayi tersebut ternyata dibuang ibunya yang malu karena melahirkan anak haram diluar nikah. Bayangkan.., bahkan Iblis-pun tidak akan sanggup membuang anaknya dengan cara demikian. Pada peristiwa lain seperti diceritakan oleh Ahmad Deedat dalam suatu ceramahnya, beliau mengisahkan kejadian terjangan badai pada suatu kota dipinggir laut di Afrika Selatan. Dalam kondisi darurat tersebut para penduduk melihat seekor anjing sedang berjuang melawan maut karena terseret ombak besar. Mereka lalu berusaha menolong anjing dengan berpegangan tangan, mempertaruhkan nyawa mereka agar bisa menjangkau anjing yang terseret ketengah laut tersebut. Bayangkan lagi, bahkan malaikat-pun tidak akan mau melakukan hal seperti itu.
‘Kebanggaan’ Allah terhadap kesempurnaan manusia tergambar dalam ayat Al-Qur'an ini:
At-Tin : 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tiin: 4)
Manusia bisa memuliakan diri mereka melebihi malaikat, dan juga menghinakan diri lebih rendah dari binatang, sebab manusia telah di desain Allah dengan tingkat kesempurnaan yang melebihi dari makhluk manapun.
2.4. Hikmah Beriman Kepada Malaikat
Kewajiban beriman kepada Malaikat ini memiliki beberapa hikmah yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Di antara hikmahi tersebut adalah :

v  Membentuk jiwa seorang muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah, karena iman kepada Allah dan iman kepada Malaikat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan
v  Mendorong manusia untuk senantiasa bertindak hati-hati, karena dia menyadari bahwa setiap perbuatannya selalu diawasi oleh para Malaikat
v  Mendorong manusia untuk selalu meningkatkan amal baik, karena manusia menyadari bahwa sekecil apapun tindakan baiknya akan dicatat oleh Malaikat
v  Menghindarkan diri manusia dari perbuatan tercela yang akan menurunkan martabat dan derajat dari manusia itu sendiri
v  Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.
v  Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.
v  Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat
v  Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita.





















































BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Secara etimologis kata Malaikah (dalam bahasa Indonesia Malaikat) adalah bentuk jamak dari malak, berasal dari masdhar al-khuluh yang artinya  ar-rissalah (misi atau pesan). Yang membawa misi atau pesan tersebut disebut dengan ar-rasul (utusan). Secara terminologis Malaikat adalah mahkluk ghaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dengan wujud dan sifat yang berbeda-beda. Sebagai salah satu mahkluk ghaib wujud malaikat tidak dapat dilihat, diraba, dicium, dirasakan oleh manusia.
Para Malaikat diciptakan dari cahaya. Merupakan makhluk Allah yang selalu taat dan tidak pernah maksiat. Malaikat adalah makhluk yang sangat besar, Malaikat juga memiliki paras yang sangat indah.
Malaikat adalah salah satu makhluk ciptaan Alloh Ta’ala. Keimanan kepada malaikat merupakan salah satu rukun dari rukun iman, hal ini sebagaimana penjelasan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits jibril, dimana malaikat jibril bertanya kepada beliau tentang iman dan kemudian dijawab oleh Rosululloh “Engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik dan buruk “. (HR.Muslim).
Hikmah beriman kepada Malaikat diantaranya, mengetahui keagungan Allah, kekuatan-Nya, dan kekuasaan-Nya. Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan sang Pencipta. Menambah rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas perhatian-Nya untuk umat manusia dengan mengutus para Malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemashlahatannya yang lain. Dan rasa cinta kepada para Malaikat karena ketaatan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3.2 Saran
Kita sebagai manusia juga harus beriman kepada para Malaikat, kerena Malikat adalah salah satu mahluk ciptaan Allah SWT, bahkan dalam rukun islam yang ke dua terdapat manusia harus beriman kepada Maliakat. Dan, apabila manusia tidak mengakui adanya Malaikat sama saja manusia tidak percaya dengan Allah SWT.






DAFTAR PUSTAKA

Sayyid Sabiq, Bandung: Diponegoro, 2004


http://gilangseptiansyah.blogspot.com/2013/03/fungsi-atau-sifat-dan-hikmah-iman.html






Tidak ada komentar:

Posting Komentar